Dosen Pendidikan Matematika UM Metro Laksanakan Benchmarking Pusat Layanan Disabilitas ke Yogyakarta

Yogyakarta, 4–6 Februari 2026 – Dosen Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Metro turut ambil bagian dalam kegiatan benchmarking best practice penyediaan layanan disabilitas yang dilaksanakan melalui Pusat Edukasi dan Layanan Inklusi Terpadu (PELITA) ke Universitas Ahmad Dahlan dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam memperkuat layanan pendidikan yang inklusif, ramah disabilitas, dan berkelanjutan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Metro.
Kegiatan benchmarking diikuti oleh pimpinan universitas dan pengelola PELITA, yaitu Dr. Nedi Hendri, S.E., M.Si., Akt., CA., CPA selaku Wakil Rektor II, Sangidatus Sholiha, M.Pd. (Ketua PELITA), Ira Vahlia, M.Pd. (Sekretaris PELITA sekaligus Dosen Pendidikan Matematika), serta Hapy Ardiaviandaru, M.Fis. (Kepala Bidang Akademik PELITA). Keterlibatan Ibu Ira Vahlia, M.Pd. sebagai dosen Pendidikan Matematika menunjukkan komitmen program studi dalam mendukung penguatan budaya kampus inklusif.
Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Metro, Dr. Nedi Hendri, menyampaikan bahwa benchmarking ini merupakan langkah strategis dalam memastikan layanan disabilitas di UM Metro dikelola secara terencana dan terintegrasi.
“Benchmarking ini kami pandang sebagai langkah strategis untuk memastikan layanan disabilitas di Universitas Muhammadiyah Metro dikelola secara terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan. Kami ingin belajar langsung dari praktik-praktik baik yang telah berjalan,” ujarnya.
Ketua PELITA Universitas Muhammadiyah Metro, Sangidatus Sholiha, menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan pembelajaran penting dalam penguatan sistem layanan inklusi.
“Kami tidak hanya melihat fasilitas, tetapi juga mempelajari sistem, kebijakan, dan pola layanan yang diterapkan. Hal ini menjadi bekal penting bagi PELITA dalam memperkuat layanan disabilitas di UM Metro,” ungkapnya.
Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, rombongan disambut oleh Ketua Unit Layanan Disabilitas, Dr. Asep Jahidin, M.Si., yang menekankan pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif.
“Pengembangan layanan disabilitas membutuhkan komitmen bersama. Melalui benchmarking seperti ini, perguruan tinggi dapat saling belajar dan memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Unit Layanan Disabilitas Universitas Ahmad Dahlan, Meita Fitrianawati, M.Pd., menegaskan bahwa layanan disabilitas perlu dibangun secara komprehensif.
“Layanan disabilitas bukan hanya soal penyediaan sarana prasarana, tetapi juga menyangkut kebijakan institusi, kesiapan sumber daya manusia, serta budaya akademik yang menghargai keberagaman,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, tim melakukan diskusi mendalam dan observasi terhadap sistem layanan akademik dan nonakademik bagi mahasiswa disabilitas, kebijakan institusional pendukung, serta penyediaan sarana dan prasarana yang aksesibel. Kegiatan ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan antarperguruan tinggi dalam penguatan layanan inklusif.
Melalui benchmarking ini, Dosen Pendidikan Matematika UM Metro bersama tim PELITA menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan lingkungan kampus yang inklusif dan berkeadilan, serta memastikan setiap mahasiswa memperoleh layanan pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi.

